Hot!

Sejarah Taman Ujung Kulon, Ternyata Ini Alasan Munculnya Badak Di Google Doodle Hari ini

Diminggu pagi, ada yang baru saat membuka halaman google, muncul 2 ekor Badak bercula di halaman google doodle hari ini (26 Februari 2017) Dua ekor badak tersebut sedang asyik berendam di dalam air.
ada apa sih sebenarnya kok minggu pagi ada badak di google?
ternyata, tepat pada hari ini, tanggal 26 Februari, adalah hari ulang tahun ke 25 Taman Nasional Ujung Kulon. banyak fakta menarik yang bisa kitabketahui di taman ujing ulon ini.


Sejarah Taman Ujung Kulon

Dikutip dari Wikipedia, Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Tatar Pasundan bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan Taman nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.

Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.

Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.

Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.

Dengan dijadikannya Taman Nasional Ujung Kulon menjadi situs warisan dunia dan terdapat saewa langka yang salah satunya adalah badak jawa. Maka, tidak heran jika Google ikut merayakan hari jadi ke 25 Taman Nasional Ujung Kulon dijadikan sebagai halaman utaman Google.

Beberapa Hal yang Membuat Badak di Taman Ujung Kulon Makin Langka
Beberapa jenis satwa endemik penting dan merupakan jenis langka yang sangat perlu dilindungi adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Saat ini, keberadaan badak jawa semakin terdesak oleh banyak hal. Data menyebutkan bahwa saat ini badak jawa hanya tinggal 50-60 ekor. Badak jawa bahkan disebut sebagai mamalia terlangka di bumi ini.

Desakan manusia yang bermukin dan berusaha di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon semakin terlihat. Janan heran jika melihat banyak permukiman warga di dalam taman nasional itu, terutama di wilayah perbatasan. Sawah dan ladang juga semakin mendesak ke dalam kawasan konservasi ini.


Permukiman penduduk dalam kawasan taman nasional dan perambahan adalah masalah yang tak kunjung usai di Taman Nasional Ujung Kulon. Masalah menjadi semakin pelik karena jumlah manusia di sana semakin membengkak. Berdasarkan catatan taman nasional, penduduk paling banyak berada di Kampung Legonpakis. Di sana terdapat ratusan rumah yang menempati lahan seluas 20 hektare. Selain itu, sedikitnya 110 hektare lahan juga telah dikuasai masyarakat untuk bercocok tanam di Legonpakis. Beberapa wilayah lain juga memiliki keadaan yang tak jauh berbeda. (pikiran-rakyat.com)



Mendesaknya para perambah ke dalam area Taman Nasional Ujung Kulon menjadi ancaman tersendiri bagi kelangsungan hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang jumlahnya semakin menyusut. Selain sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, habitat badak jawa juga menjadi sangat minim dan terdesak.

Untungnya, perambahan hutan itu tak dibarengi dengan tingginya angka perburuan seperti yang ditemui di wilayah konservasi lain di Indonesia. Meskipun nilai materi cula badak sangat tinggi di pasar gelap, namun para pemburu harus berpikir dua kali untuk memburunya.

Ancaman terhadap habitat badak jawa ternyata tak hanya datang dari manusia, melainkan dari alam sendiri. Jika manusia telah mendesak habitat badak jawa menjadi lebih sempit, alam di zona inti taman nasional juga semakin tak bersahabat dengan badak. Ancaman degradasi habitat karena suksesi hutan menuju klimaks serta adanya invasi tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia) menjadi masalah serius bagi badak.

Beberapa hasil penelitian memberikan indikasi bahwa invasi langkap merupakan penyebab utama terjadinya degradasi habitat badak jawa secara alami dan dalam jangka panjang diduga menyebabkan penurunan populasi satwa tersebut di Taman Nasional Ujung Kulon. Badak jawa adalah satwa pemakan pucuk-pucukan atau tanaman rendah (browser). Saat langkap tumbuh besar hampir semua tanaman di bawah tajuknya tak bisa tumbuh.

Celakanya, langkap tumbuh dengan cepat dan masif. Pada area di blok Cilintang Ujung Kulon misalnya, langkap dapat tumbuh 3.000-4.000 batang per hektare. Bersamaan dengan semakin banyaknya langkap, pakan badak jawa menjadi semakin berkurang. Padahal, badak jawa membutuhkan makanan sedikitnya 50 kilogram per ekor per hari dedaunan. Belum lagi badak jawa harus bersaing mencari pakan dengan banteng yang hidup pada daerah sama dengan jumlah lebih banyak.

Sebagai upaya penyelamatan badak jawa, pengelola Taman Nasional Ujung Kulon membuat second habitat untuk badak jawa di sebelah timur Ujung Kulon. Saat ini, sebagian besar badak menghuni daerah semenanjung di bagian barat dan sebagian di antara mereka akan mencoba ”digiring” secara alami ke arah timur

Mencoba melestarikan badak jawa di tengah desakan manusia dan alam sendiri bukanlah hal mudah. Petugas terus mencoba mendekati masyarakat supaya tidak terus merambah, namun pada saat bersamaan mereka juga harus melakukan sebuah "rekayasa" habitat agar kelangsungan hidup badak jawa terjaga secara alami. Meskipun demikian, keyakinan dari para pengelola taman nasional dan semua pihak yang terjun dalam upaya penyelamatan badak jawa memberikan harapan baru untuk kelangsungan hidup mamalia yang paling terancam punah di dunia ini.